Jumat, 28 November 2008
SUMBERDAYA MANUSIA HANDAL PENTING BAGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pada BAB I pasal 1 disebutkan :Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.Sedangkan pada BAB VI pasal 30 dijelaskan :- Pendidikan keagamaan di selenggarakan oleh pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.- Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggotamasyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajarannya dan/atau menjadi ahli ilmu agama.Dua dasar yang diambil dari undang-undang SisDikNas hanyalah bagian kecil dari gambaran betapa peluang besar bagi umat Islam untuk mengembangkan Pendidikan Agama Islam seluas-luasnya khususnya di bangku pendidikan formal.Untuk membahas topik strategi Pengembangan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum Masa kini, antara peluang dan tantangan terlebih di sebutkan dalam judul dalam tulisan ini “Sumber Daya Manusia Handal Penting Bagi Pengembangan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum”.Maka perlu mengidentifikasi masalah terlebih dahulu;1. Hakekat manusia dan pendidikan menurut Islam2. Apakah Islam mengajarkan kepada kita untuk melakukan perubahan-perubahanbagi kepentingan agama ?3. Mengapa pelaku pendidikan harus ditingkatkan Sumber Daya Manusianya apahubungannya dengan kompentensi Guru ? 4. Gagasan apa sajakah yang harus dirumuskan sehubungan dengan perkembangandan perubahan kurikulum pada sekolah umum.5. Mampukah kita menjawab tantangan dan peluang bagi pengembangan strategi pendidikan Agama Islam pada sekolah Umum masa kini.1. Hakekat Manusia dan Pendidikan Menurut IslamManusia pada dasarnya adalah makluk yang diciptakan oleh Allah SWT yang paling sempurna dan mulia di antara makhluk-makhluk Allah yang lainnya.Sebagaimana frman Allah SWT. :¢OèO çm»tR÷ŠyŠu‘ Ÿ@xÿó™r& tû,Î#Ïÿ»y™ ÇÎÈ“Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dalam keadaan yang paling baik” (At Tiin : 5)Demikian pula manusia juga mempunyai tugas kekholifahan. Manusia diberi tugas untuk mengelola bumi berikut kekayaan yang terkandung didalamnya. Tentu saja untuk mengolahnya Allah SWT. telah membekali pada diri manusia suatu kemampuan dasar, yaitu suatu potensi yang ada dalam diri manusia yang biasa kita kenal dengan sebutan fitrah. Sedang kemampuan dasar atau fitroh itu ialah kemampuan dasar untuk beragama. Namun fitrohnya manusia bukan berarti putih bersih atau suci sebagaimana teorinya John Lock dengan Meja Lilinnya / kertas putih, kemampuan dasar manusia untuk beragama inilah yang membuat manusia dapat di didik untuk beragama apa saja termasuk Yahudi dan Nasrani.“Setiap anak itu dilahirkan dengan membawa fitroh, maka kedua orang tuanyalah yang mendidiknya Yahudi, Nasrani, dan Majusi” (HR. Bukhori ).Dapat kita pahami pula bahwa manusia adalah makhluk yang terdidik dan mendidik yaitu kemampuan manusia untuk mengembangkan dirinya melalui sebuah proses pembelajaran sehingga mampu mencapai apa yang dicitakan dalam hidup khususnya dalam rangka pencapaian tujuan dari kehidupan yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat atas Ridho Illahi.Selain itu manusia sebagaimana fitrahnya adalah sebagai pendidik yang harus menyampaikan kemampuan yang dimilikinya kepada orang lain atau mengajarkannya dengan penuh tanggung jawab guna memenuhi fitrohnya.Artinya: “ Dan barang siapa diajari suatu ilmu pengetahuan, lalu menyembunyikannya, maka Allah akan mengekang mulutnya dengan kekangan api neraka pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud., Tarmidzi dan Ibnu Hibban dari Abi Hurairah).Pandangan Islam tentang manusia sebagai makhluk yang belajar dan makhluk yang mengajar sebagaimana tersebut diatas masing-masing memiliki kemampuan yang berbeda-beda dan prosesnya berlangsung semenjak manusia itu dilahirkan sampai pada akhir hayatnya ( Life-Long-Education) dengan tujuan akhirnya adalah kebahagiaan hidup di dunia dan akherat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, sehingga pendidikan itu bersifat terus menerus.Karena Islam itu adalah agama rahmatan lil’alamin, maka Pendidikan Agama Islam diharapkan benar-benar mampu mengarahkan manusia-manusia muslim pada tujuan akhir dari pada pendidikan itu sendiri dengan tidak lepas dengan segala macam persoalan kompleks yang terjadi di era sekarang ini. Inilah tantangan yang akan kita pecahkan.2. Perubahan-Perubahan Sistem Sehubungan Dengan Perbaikan Bagi Kepentingan Agama.Pendidikan Islam mengarahkan kepada suatu tujuan akhir pada keseimbangan / keselarasan antara kepentingan dunia dan kepentingan akherat bagi setiap makhluknya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. :“Bekerjalah untuk duniamu seakan engkau akan hidup selama lamanya, dan bekerjalah untuk akheratmu seakan-akan engkau akan mati besok”Dalam hadits tersebut Rasulullah Muhammad SAW, mengajarkan kepada kita untuk senantiasa memikirkan dunia dan akherat tanpa mengabaikan kedua-duanya.Sekalipun pendidikan Islam, menekankan pada ruhiyah dan akhlak tidak ditinggalkan pula ketrampilan-ketrampilan di dalamnya guna persiapan untuk hidup dan mencari rizki. Menurut Muhammad Athiya El-Abrasyi disebutkan pula bahwa Pendidikan Islam juga melatih badan, akal, hati, perasaan, kemauan tangan, lidah dan pribadi. [1]Persoalan kita masa sekarang ini banyaknya perubahan-perubahan tingkah laku dan cara berpikir pada dunia pendidikan. Siswa khususnya, banyak sekali sorotan-sorotan negatif terhadap perkembangan pribadi dan keilmuannya. Secara transparan dapat disebutkan sekarang ini banyak para siswa disekolah yang lebih mengedapankan pergaulan-pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan khususnya di tingkat sekolah Menengah Pertama dan sekolah Menengah Atas terbukti dalam pemberitaan melalui media masa yang menyebutkan banyaknya anak yang terlibat dalam penyalah gunaan Narkotika, minuman keras, hubungan suami istri diluar nikah hingga sampai pada tindakan-tindakan kriminal seperti mencuri, merampok bahkan membunuh. Tidak lepas kasus-kasus semacam itu mulai merembet ke jenjang pendidikan paling dasar yaitu sekolah dasar. Sayangnya penulis belum sempat melakukan penelitian-penelitian secara khusus sehingga tidak bisa disajikan prosentase kasus.Namun demikian kasus-kasus tersebut diatas tidak bisa kita ingkari karena didepan mata seringkali kita jumpai hal-hal tersebut.Karena itu benar adanya, sebegitu bejatnya moral generasi kita sekarang ini siapa lagi yang hendak kita salahkan ? Maka kita tidak perlu saling menyalahkan akan tetapi setiap masing-masing yang punya kepentingan didalamnya sebagaimana 3 pusat pendidikan :- Sekolah- Masyarakat- Keluarga.- Sekolah misalnya adalah Pendidik mempunyai peran penting di dalamnya.- Masyarakat / lingkungan tokoh Masyarakat, para orang-orang yang dituakan, lembaga-lembaga sosial dan lain-lain.- Keluarga dalam hal ini adalah orang tua siswa hendaknya mereka semua instropeksi diri, sejauh mana keterlibat mereka, peran mereka untuk menyelamatkan bangsa ini.Guru Pendidikan Agama Islam mempunyai peran yang strategis dalam melaksanakan proses mendidik dan mengajar, karena melalui proses pendidikan akan membentuk sikap dan perilaku peserta didik, disamping guru harus menjadi uswah khasanah.Kinerja guru seringkali dipertanyakan oleh berbagai kalangan seiring dengan harapan-harapan besar yang digantungkan pada pundak seorang guru. Maka tugas sebagai guru harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan bukan merupakan pekerjaan sambilan belaka. Dalam keadaan yang demikian guru dituntut untuk terus meningkatkan mutu dan kemampuannya, agar memiliki pengetahuan yang luas dalam melaksanakan profesinya.Allah tidak akan mengubah keadaan seseorang melainkan meresendirilah yang harus merubahnya”. ( QS. Ar Ro’du : 11 )Oleh karenanya guru hendaknya harus selalu peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi khususnya perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat baik positif maupun negatif. Disamping itu guru untuk masa sekarang ini kususnya tidaklah sekedar harus punya kemampuan mengajarkan materi pelajaran saja, melainkan juga harus bisa menjadi Pembina moral spiritual, terkadang motifator dan fasilitator. Pendeknya guru hendaknya mampu membawa kepada pencarahan-pencarahan.Terlebih dengan ditetapkannya dan dilaksanakannya kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006. Dibutuhkan guru-guru khususnya guru agama yang mampu membuat dan mengembangkan kompetensi dasar yang menjadi acuan Pelaksanaan kurikulum tahun 2006 ini.Dulu sebelum tahun 2004 saat munculnya kurikulum KBK yang tidak jadi di sahkan melainkan di rubah kembali hingga terbit kurikulum 2006 ini, guru dihadapkan pada bahan-bahan jadi dan siap saji sehingga dari sisi keterlibatan dalam menentukan kurikulum hampir tidak ada, kecuali guru membuat persiapan-persiapan mengajar di dalam kelas (pelaksana lapangan). Namun kini, guru di uji dan dituntut untuk mampu terlibat secara langsung dalam pengembangan-pengembangan kurikulum khususnya di tingkat satuan pendidikan atau di sekolahnya masing-masing. Seberapakah hasil belajar yang harus dicapai oleh siswa pada setiap jenjang kelasnya, guru memiliki peran besar mulai dari proses penentuan kurikulum hingga pada proses pelaksanaan belajar-mengajar yang tentunya guru di beri kesempatan untuk bekerja sama dengan kepala sekolah dan / komite sekolah.Perubahan-perubahan pada standar kompetensi dalam kurikulum adalah merupakan peluang sekaligus tantangan bagi guru. Guru memiliki peluang untuk mengembangkan potensi dirinya dalam keterlibatannya melakukan perubahan-perubahan ini. Nantinya akan semakin kelihatan antara guru yang benar-benar memiliki kompetensi keguruan dan guru yang sekedar gelarnya saja. Karena ada beberapa dalam kompetensi dasar pada kurikulum itu masih baru, tentu untuk mendapatkan bahan ajarnya guru benar-benar harus kreatif mencari sumber belajarnya dan tidak bisa asal makan dengan menggunakan buku-buku pelajaran yang diterbitkan oleh penerbit, sekali lagi karena sifatnya baru, maka peluang besar bagi guru untuk mampu menyusun materi pelajaran sendiri baik berupa, diktat, modul atau bahkan buku pelajaran yang siap saji.Menyikapi terbitnya kurikulum baru dan perubahan pada jam belajar mengajar pada sekolah umum khususnya di Sekolah Dasar, maka pandai-pandailah guru mengatur dan mengolahnya. Berkurangnya waktu dalam setiap jamnya sebelumnya 40 menit kini menjadi 35 menit nampaknya sedikit selisihnya namun bila itu dikalikan 3 dalam setiap minggunya, dalam satu tahun berapa jam yang hilang.Untuk itu tantangan bagi guru Agama masa sekarang ini. Mendidik dan mengajar bagi guru Agama tidaklah sekedar tatap muka di dalam kelas dengan porsi waktu setiap minggunya 105 menit / 1 jam 45 menit saja melaiankan pendidikan dan pengajaran bagi guru agama itu berlangsung 24 jam setiap harinya dengan pengawasan guru ketika siswa berada di sekolah dan sisanya orang tua dan masyarakat yang tentunya porsi terbesar dalam pengawasan pendidikan dan pengajaran.Perubahan-perubahan untuk kepentingan Agama adalah tidak ada salahnya, tinggal kita saja bagaimana turut serta dalam menyikapi perubahan-perubahannya. Selagi perubahan itu tidak pada aqidah dan syari’ah tidak masalah. Apalagi perubahan-perubahan itu terjadi terletak pada strategi dan materinya saja. Maka sikap positif pada guru sangat di perlukan sehingga pencerahan yang sudah disebutkan di depan betul-betul dapat terealisasi.Belum jika waktu-waktu efektif terbuang karena guru diberi tugas-tugas yang lain seperti penataran, rapat, sakit, dan sebagainya. Yang tentu waktunya pasti juga akan berkurang.Karena tadi sudah disebutkan bahwa keluarga juga terlibat dalam proses pendidikan, maka perlu di pahami bahwa keluarga merupakan suatu lingkungan yang pertama bagi anak untuk berinteraksi, dan dari interaksi pertama inilah anak memperoleh kepribadian, akhlak, nilai-nilai, kebiasaan dan emosi. Mengingat pentingnya keluarga yang demikian itu maka Islam memandang bukan hannya sebagai persekutuan kecil saja melainkan lebih dari itu, sebagai lembaga hidup manusia yang dapat memberi kemungkinan sengsara atau bahagianya anggota keluarga di dunia dan di akherat.Imam Al Ghozali berpendapat bahwa Pendidikan Agama itu harus diajarkan sedini mungkin, lantaran pada tahap tersebut anak mampu mempunyai persiapan menerima kepercayaan agama semata-mata hannya dengan mengimankan saja dan tidak di tuntut mencari dalil-dalilnya.[2]Keluarga sebagai lingkungan anak, disadari atau tidak akan langsung berpengaruh pada anak, oleh karena itu situasi yang harus di ciptakan, yakni situasi yang kondusif dan untuk menciptakan suasana tersebut dituntut kesadaran dan usaha dari kedua orang tua terutama ibu sebagai penanggung jawab rumah tangga.Harus diakui, pada umumnya orang tua dalam kehidupan sehari-hari, banyak disibukkan oleh kegiatan-kegiatan ekonomi guna memenuhi kebutuhan yang bersifat materiil, sehingga tugas mendidik anak-anak kadang terabaikan bahkan dengan pendidikan anaknya kurang perhatiannya.Dalam kebanyakan seperti itu sebagian orang tua mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada takmir masjid, atau guru privat. Memang dalam situasi tersebut tanggung jawab pendidikan dapat dilimpahkan kepada pihak lain yaitu guru-guru, dengan catatan bahwa perlimpahan tersebut tidak menghilangkan dan mengurangi tanggung jawab pendidikan yang dibebankan kepada orang tuanya.[3]Sementara ada sebagian orang tua yang tidak tahu atau tidak memperhatikan pendidikan agama terhadap putra-putrinya bahkan tanpa usaha secara sadar untuk mempercayakan kepada orang lain, sikap orang tua yang semacam ini tidaklah dikehendaki dalam agama Islam, sebagaimana firman Allah SWT:“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.Dalam sebuah hadits disebutkan :“Orang laki-laki (suami) itu adalah pemelihara, ia bertanggung jawab kepada pemeliharaannya. Wanita (istri) itu pemelihara di dalam rumah tangga suaminya dan ia bertanggung jawab kepada pemeliharaannya. (Mutafaqun ‘alaihi).[4]Keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan diperlukan bagi anak-anak dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani yang sehat.Demikian oleh Sayid Sabiq di sebutkan bahwa pemeliharaan diri dan keluarga adalah melalui pendidikan dan pengajaran, menumbuhkan mereka ke arah pemeliharaan akhlak yang utama, memberi petunjuk kepada mereka terhadap hal-hal yang bermanfaat serta menguntungkan hidup mereka.3. Peningkatan Sumber Daya Manusia dan Profesionalisme Guru.Peningkatan Sumber Daya manusia dan profesionalisme bagi guru adalah merupakan suatu keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar. Dalam rangka membentuk / meningkatkan profesi guru maka diperlukan pembinaan-pembinaan baik oleh guru secara pribadi maupun pemerintah dalam hal ini instansi yang berhubungan dengan pendidikan melalui :- Penataran-penataran.- Work shop.- Seminar.- Penelitian.- KKG baik di tingkat gugus, Kecamatan maupaun Kabupaten sampai dengan ketingkat yang lebih tinggi.Semua kegiatan-kegiatan tersebut adalah baik bagi setiap guru dan itulah wadah peningkatan profesinya.Guru yang memiliki kompetensi tinggi terhadap profesinya dia akan mengedepankan peningkatan kwalitas pribadinya baik secara rukiyah, akhlak, ketrampilan serta intelegensinya.Persoalannya bagi guru sekarang, guru sebagai pengajar apalagi sebagai pendidik dalam melaksanakan tugasnya kondisinya selalu berubah-ubah. Masalah tersebut dari yang bersifat pribadi sampai kepada persoalan yang bersifat administratif, serta proses pembelajaran, seperti :1. Kurangnya kesempatan untuk mengembangkan profesinya.2. Kurangnya sarana dan prasarana belajar mengajar.3. Kurangnya kesejahteraan guru secara finansial sehingga untuk guru yang mengandalkan hidup dari gajinya saja tidak akan mungkin mampu berpikir untuk menyisihkan gajinya bagi pengembangan profesinya, kecuali sebagian guru saja yang ikhlas bekerja karena Allah SWT.dan membuka hatinya bagi peningkatan mutu pribadinya mesti harus mengeluarkan dana dari kantongnya sendiri tanpa harus menunggu jatah, demikian juga semestinya ia mampu berkreatifitas tinggi namun sekali lagi alasan finansial biasanya menjadi jawaban terakhir bagi guru.Bagaimana kita menyikapi persoalan-persoalan tersebut sebab peningkatan Sumber Daya Manusia sudah menjadi syarat wajib bagi pengembangan profesional sebagai guru. 4. Gagasan Dan Rumusan Sehubungan Dengan Perkembangan Dan Perubahan Kurikulum Pada Sekolah Umum.Salah satu faktor penentu keberhasilan proses belajar mengajar adalah guru. Tugas guru tidak sekedar “tranfer of knowledge” (memindahkan ilmu) atau transmistter of knowledge ( penyalur ilmu ) tetapi lebih dari itu. Bahwa sebagai pendidik guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai pengarah dan pembina pengembangan bakat dan kemampuan anak didiknya ke arah titik maksimal yang dapat mereka capai. Tidak sekedar intelegensinya saja melainkan, affektif dan kognitifnya sudah seharusnya turut dibangun.Gagasan tentang Strategi Pengembangan Pendidikan agama pada sekolah umum masa kini.1. Terbukanya peluang besar bagi guru untuk menyampaikan pesan-pesan moral keagamaan ialah harus menjadi pokok penekanan dalam pengembangan dan penyusunan kurikulum di tingkat satuan pendidikan. Disamping aqidah dan fiqih sebagaimana latar belakang kondisi sosial keagamaan generasi kita masa sekarang ini yang telah diuraikan pada tulisan sebelumnya. Dan perusak akhlak generasi kita yang terbesar adalah menculnya berbagai media baik yang bersifat Audio, Visual terlebih Audio Visual seperti televisi bahkan tersebarnya VCD-VCD, Tabloid, Majalah yang berisikan pornografi dan kekerasan. Guru diharapkan mampu mengolah dan setidak-tidaknya dapat bekerja sama dengan para ahli dalam menghadapi perubahan dan perkembangan ilmu dan tehnologi dan yang terpenting mampu memberikan bekal kepada peserta didiknya untuk memiliki filter dalam menghadapi perkembangan-perkembangan tersebut. Sebab pertumbuhan ilmu dan tehnologi tidak akan pernah bisa dicegah melainkan kita harus menghadapinya. Karena perkembangan itu sendiri sebenarnya mendapatkan dorongan motivasi dari dalam kandungan ayat-ayat kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.2. Guru sebagai Pelaksana Pendidikan disekolah harus mampu memilih dan menentukan strategi yang tepat dalam rangka pengembangan pendidikan agama seperti :a. Dalam menentukan materi pembelajaran hendaknya tidak lepas dari Kompetensi Dasar dan kurikulum yang telah dikembangkan di tingkat Satuan Pendidikan yang tentunya menjadi tujuan dari pendidikan agama di sekolah.b. Metode :Dalam memilih metode sudah seharusnya dipilih metode yang paling tepat sesuai dengan materi serta kondisi peserta didik dan jangan hannya sekedar menggunakan satu metode yang disukainya saja, tetapi dalam memilih metode hendaknya berfariatif disesuaikan dengan kondisi sekitar baik materi, alat dan peserta didik sendiri. Pilihlah metode pembelajaran yang menyenangkan yang mengembangkan prinsip Contekstual Teaching and Learning (CTL) sehingga tercipta belajar aktif yang menyenangkan serta menumbuhkan motivasi.c. Alat.Pembelajaran Pendidikan Agama Islam memiliki keragaman materi yang tidak menutup kemungkinan guru menggunakan alat sebagai sarana dan prasarana belajar mengajar tentu saja menggunakan alat ini juga harus disesuaikan dengan waktu, usia, dan karakter siswa. d. Sumber Belajar.Banyak sekali sumber belajar yang dapat digunakan oleh seorang guru Pendidikan Agama Islam. Tentunya Qur’an dan Hadits adalah sumber utamanya. Selanjutnya kurikulum serta buku-buku penunjang yang lain yang itu nantinya juga akan berpengaruh terhadap wawasan pengetahuan guru dan siswa. e. Waktu.Sehubungan dengan jumlah jam belajar disekolah yang seringkali dirasa kurang bagi setiap guru pendidikan agama Islam, maka sebagaimana kurikulum tahun 2006 ini yang juga menitik beratkan pada “Pengembangan Diri” maka suatu kesempatan bagi guru untuk mampu mengolah waktu dan materi guna membangun kebiasaan-kebiasaan positif pada siswa yang mengarah kepada nilai-nilai akhlak yang mulia. 5. Bagaimana Kita Menjawab Antara Peluang Dan Tantangan Bagi Pengembangan Strategi Pendidikan Agama Isam Pada Sekolah Umum Masa Kini.Sekolah umum memang tidak akan sama dengan Madrasah dalam hal muatan kurikulum keagamaan yang dirancang dalam lembaga masing-masing, namun tujuan yang hendak dicapai secara umum sama yaitu menciptakan masyarakat yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Karenanya pendidikan Islam yang hendak kita capai haruslah berorientasi kepada kebutuhan hidup manusia di dunia kini dan akherat kelak.Tugas guru agama pada sekolah umum harus mampu memberikan dorongan positif kearah ilmu pengetahuan dan tehnologi dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai sumber acuannya.Firman Allah SWT : Artinya :“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri manusia memperhatikan hal-hal apa yang hendak dilaksanakan bagi hari esok. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al Hasyr : 18) Sabda rasulullah SAW :“Ajarlah anak-anak kalian (ilmu-ilmu pengetahuan) tidak seperti yang pernah kalian sendiri diajarkan. Oleh karena mereka diciptakan untuk generasi zaman yang berlainan dengan generasi zaman kalian”.Ayat serta hadits diatas, adalah sejalan dengan dibutuhkannya suatu perubahan-perubahan kearah yang lebih baik bagi perkembangan agama, kita diajarkan untuk senantiasa hidup dinamis dan tidak statis.Sungguh suatu kesempatan besar bagi guru pendidikan agama untuk turut mengembangkan pendidikan agama diberbagai sektor ilmu pengetahuan yang diajarkan disekolah. Tentunya disekolah, guru agama akan menjadi figur yang menentukan. Oleh karenanya setiap pribadi guru pendidikan agama harus benar-benar mampu menjadi uswatun hasanah sehingga pengajaran agama di sekolah dapat terlaksana dengan baik walaupun kebaikan dan keberhasilannya tentu juga akan dipengaruhi oleh semua guru dalam pelaku-pelaku pendidikan di sekelilingnya.[1] Omar Mohammad Al-Tommy Al-Syaibany, Prof. Dr. Falsafah pendidikan Islam, Bulan Bintang.[2] Fatiyah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan Versi Al Ghozali, Drs. Fathurrohman, Drs. Syamsudin Asyrofis, Percetakan (Bandung : Al Maarif. 1986) hal 61.[3] Abdul Faah Jalal, azas-azas Pendidikan Islam, Elerry Noor Ali, Percetakan (Bandung : CV Diponegoro, 1998) hal 12.[4] Fatchurrahman, Al Haditsun Nabawy (Kudus : Menara Kudus 1996), hal 129.
Rabu, 10 September 2008
BEKERJA UNTUK IBADAH
Makhluk Allah SWT. yang bernama manusia adalah makhluk yang jiwanya senantiasa dipenuhi dengan keinginan-keinginan ( gejolak nafsu ) ya ...keinginan apa saja dari mulai ingin makan, minum, tidur, berteman, berkeinginan untuk pandai , kaya, dihormati dan sebagainya pastilah salah satu diantaranya pasti ada yang dimiliki oleh makgluk yang ernama manusia.
Berangkat dari keinginan-keinginan inilah yang kemudian manusia diuji oeh Tuhannya : Apakah nafsu negatifnya yang berkmban atau nafsu positifnya yag maju. yang pasti adalah iantaranya menghiasi kita.
Ketika seseorang berkesempatan untuk dipercaya akan keilmuannya atau keterampilannya dengan diberikannya kesempatan untuk membangun diri lewat suatu pekerjaan baik negeri, swasta maupun wira usaha sekalipun maka hendaknya apa yang dikerjakannya itu diniatkan untuk mencari rezeqi halal dari Allah dengan niat ikhlas dan tulus semata-mata mencari keridhoanNya. Insya Allah niat yang seperti inilah yang kemudian akan membangun semangan beramal dan melakukan atau mengerjakan segala sesuatu tanpa keluhan dan tanpa prasangka yang buruk terhadap siapapun termasuk Allah.
Tulisan ini kami angkat sebagai bahan motivasi bekerja untuk lebih baik lagi walau tanpa penghargaan sedikitpun. Hal ini akan terasa sebegitu nikmat.... (apapun yang terjadi )
Berangkat dari keinginan-keinginan inilah yang kemudian manusia diuji oeh Tuhannya : Apakah nafsu negatifnya yang berkmban atau nafsu positifnya yag maju. yang pasti adalah iantaranya menghiasi kita.
Ketika seseorang berkesempatan untuk dipercaya akan keilmuannya atau keterampilannya dengan diberikannya kesempatan untuk membangun diri lewat suatu pekerjaan baik negeri, swasta maupun wira usaha sekalipun maka hendaknya apa yang dikerjakannya itu diniatkan untuk mencari rezeqi halal dari Allah dengan niat ikhlas dan tulus semata-mata mencari keridhoanNya. Insya Allah niat yang seperti inilah yang kemudian akan membangun semangan beramal dan melakukan atau mengerjakan segala sesuatu tanpa keluhan dan tanpa prasangka yang buruk terhadap siapapun termasuk Allah.
Tulisan ini kami angkat sebagai bahan motivasi bekerja untuk lebih baik lagi walau tanpa penghargaan sedikitpun. Hal ini akan terasa sebegitu nikmat.... (apapun yang terjadi )
Sabtu, 06 September 2008
Apa itu Khasanah Ikhtiary?
Khasanah ikhtiary sebenarnya nama untuk jaringan bisnis kecil-kecilanku...
Sejak masih usia muda ... boleh dibilang ketika masih SD umy dirumah secara tidak langsung membangun jiwa bisnis alias dagang bagi anak-anaknya. Kondisi keluarga mungkin yang memotifasi kenapa jiwa dagang itu muncul. Bermula ketika ayahku bekerja disebuah perusahaan Swasta yang memiliki 7 orang putra yang salah satunya adalah aku sendiri, mungkin gajinya untuk membiayai ke 7 putranya tersebut dirasa kurang sehingga umy yang berstatus sebagai ibu rumah tangga dirumah suka membuat kue, kerajinan tangan (menyongket dan membuat kristik) ketika itu mungkin hasilnya cukup lumayan buat tambah-tambah penghasilan. salah satu usaha sampingannya lagi yaitu memelihara burung Puyuh... nah ini dia... setiap pagi Umy selalu memasak beberapa butir telur puyuh untuk aku bawa kesekolah buat dititipkan di koperasi sekolah... lumayan juga kalau pas laku... pulang sekolah aku melaporkan hasil penjualannya kepada umy... lepas dari itu aku juga suka memanfaatkan waktu-waktu liburanku buat bermain sambil berjualan: seperti aku jual layang-layang, permen dan beberapa kembang api, ya namanya anak-anak ketika itu untung tdk seberapa tapi aku merasakan kepuasan.
keinginanku untuk mempunyai sebuah toko aku kejar terus, sehingga aku menginjakkan usia remaja, aku terobsesi dengan pedagang buku sehingga seringkali aku belanjakan kumpulan uang sakuku untuk belanja buku-buku dan aku tawarkan kepada teman-teman organisasi dan teman ngajiku( aku mendapatkan keuntungan dari persenan pembelian) sampai akhirnya daganganku berkembang sampai ke pakaian dan apasaja yang dipesan orang yang bisa aku layani.
Pernikahanku akhirnya meotifasiku untuk mengembangkan usaha itu... aku mulai usaha denga membuka sebuah Depot Iqro' dan busana... karena melihat perjalanan perjuanganku itulah akhirnya " Khasanah Ikhtiary" menjadi nama usaha bisnisku kini sampai akhirnya berkembang keusaha Cetak mencetak dan sejenisnya yang kita beri nama Rido Grafika nah yang ini kuambil dari nama Anakku Ridlo.
O..ya khasanah ikhtiary mengandung arti Usaha yang baik...
bagaimana dengan pengalaman temen- temen
Sejak masih usia muda ... boleh dibilang ketika masih SD umy dirumah secara tidak langsung membangun jiwa bisnis alias dagang bagi anak-anaknya. Kondisi keluarga mungkin yang memotifasi kenapa jiwa dagang itu muncul. Bermula ketika ayahku bekerja disebuah perusahaan Swasta yang memiliki 7 orang putra yang salah satunya adalah aku sendiri, mungkin gajinya untuk membiayai ke 7 putranya tersebut dirasa kurang sehingga umy yang berstatus sebagai ibu rumah tangga dirumah suka membuat kue, kerajinan tangan (menyongket dan membuat kristik) ketika itu mungkin hasilnya cukup lumayan buat tambah-tambah penghasilan. salah satu usaha sampingannya lagi yaitu memelihara burung Puyuh... nah ini dia... setiap pagi Umy selalu memasak beberapa butir telur puyuh untuk aku bawa kesekolah buat dititipkan di koperasi sekolah... lumayan juga kalau pas laku... pulang sekolah aku melaporkan hasil penjualannya kepada umy... lepas dari itu aku juga suka memanfaatkan waktu-waktu liburanku buat bermain sambil berjualan: seperti aku jual layang-layang, permen dan beberapa kembang api, ya namanya anak-anak ketika itu untung tdk seberapa tapi aku merasakan kepuasan.
keinginanku untuk mempunyai sebuah toko aku kejar terus, sehingga aku menginjakkan usia remaja, aku terobsesi dengan pedagang buku sehingga seringkali aku belanjakan kumpulan uang sakuku untuk belanja buku-buku dan aku tawarkan kepada teman-teman organisasi dan teman ngajiku( aku mendapatkan keuntungan dari persenan pembelian) sampai akhirnya daganganku berkembang sampai ke pakaian dan apasaja yang dipesan orang yang bisa aku layani.
Pernikahanku akhirnya meotifasiku untuk mengembangkan usaha itu... aku mulai usaha denga membuka sebuah Depot Iqro' dan busana... karena melihat perjalanan perjuanganku itulah akhirnya " Khasanah Ikhtiary" menjadi nama usaha bisnisku kini sampai akhirnya berkembang keusaha Cetak mencetak dan sejenisnya yang kita beri nama Rido Grafika nah yang ini kuambil dari nama Anakku Ridlo.
O..ya khasanah ikhtiary mengandung arti Usaha yang baik...
bagaimana dengan pengalaman temen- temen
Kamis, 04 September 2008
Langganan:
Postingan (Atom)